Selasa, 14 Juni 2011
HIPMI Masuk Kampus Lahirkan Ribuan Wirausahawan Baru
"Untuk satu juta pengusaha baru membutuhkan waktu yang lama, karena untuk mencapai itu tidak mungkin dilakukan sendiri dan harus melibatkan stakeholder yang lain, cukuplah 1.000-2.000 entrepreneur baru," kata Erwin usai membuka Temu nasional HIPMI-perguruan tinggi di gedung New Majestik, Bandung, Selasa, (14/6/2011).
Menurut Erwin, HIPMI akan melakukan kampanye kewirausahaan di kampus-kampus agar menjadi spirit bagi semua bidang profesi. "Mereka (mahasiswa) melihat HIPMI sebagai partner yang ideal, sebagai role model dalam menghasilkan generasi entrepreneur Indonesia bersaing 2011," imbuhnya.
Erwin menambahkan, program Kewirausahaan masuk kampus lebih menitikberatkan pada kemampuan melatih mahasiswa untuk berorganisasi, mendorong networking dunia usaha lebih dini, sehingga mereka terinspirasi dengan pengusaha muda yang telah sukses.
"Jiwa wirausaha harus masuk ke mindset mahasiswa, tidak ada pendidikan formal yang menghasilkan wirausahawan muda yang handal," Erwin menandaskan.
Sumber: http://kampus.okezone.com/read/2011/06/14/373/468400/hipmi-masuk-kampus-lahirkan-ribuan-wirausahawan-baru
Pilih Kuliah di Luar Negeri atau Dalam Negeri
POTENSIAL, Australian Education Center (AEC) menilai Indonesia merupakan pasar potensial bagi lembaga pendidikan di Negeri Kanguru itu. Selain melalui jalur reguler, Pemerintah Australia juga menyediakan beasiswa untuk jenjang pendidikan S-1 dan S-2 bagi mahasiswa asing.
PELAJARIndonesia tidak perlu khawatir jika ingin melanjutkan kuliah di luar negeri.Banyak lembaga non-profit asing yang memberikan bantuan untuk mewujudkan keinginan itu.
Lembaga-lembaga itu umumnya berada di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta dan Surabaya. Biasanya, mereka adalah perpanjangan tangan dari pemerintah masing-masing negara yang menawarkan sekolah bagi pelajar Indonesia. Beberapa contohnya adalah Australian Education Centre (AEC) yang merupakan perwakilan dari Pemerintah Australia.
Lalu ada Netherlands Education Support Office (NESO) untuk Belanda, British Council (BC) untuk Inggris dan Educational Advising Service (EAS) untuk Amerika Serikat (AS). Banyaknya lembaga itu,tidak bisa dimungkiri menunjukkan Indonesia mendapatkan perhatian lebih dari dunia internasional.
Salah satunya karena Indonesia adalah pasar potensial bagi negara-negara itu untuk mendapatkan pemasukan dari sektor pendidikan. Berdasarkan data dari Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), lulusan SMA tahun ajaran 2006/2007 berjumlah 1.076.154.Jumlah ini tentu jumlah yang luar biasa.
“Harus diakui, pertimbangan Indonesia sebagai pasar memang ada.Tetapi, itu bukan menjadi satu-satunya alasan utama,” kata Irene Pingkan Umboh,Manajer AEC Jakarta. Berdasarkan data AEC, pada tahun ajaran 2006/2007, AEC telah membantu keberangkatan 5.500 mahasiswa (S-1 dan S-2) ke Australia.
Sampai saat ini,menurut Irene, ada sekitar 15.000 mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Australia. “Rata-rata per tahun sekitar 5.000 orang yang berangkat kuliah di Australia,” kata Irene yang alumnus Blue Mountain Hotel School Australia ini. Irene mengungkapkan, peningkatan kerja sama dan hubungan antarkedua negara di bidang pendidikan sebagai tujuan utama mereka.
Tujuan lainnya adalah membantu para pelajar Indonesia mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan berkualitas di luar negeri. “Fakta bahwa Indonesia harus meningkatkan kualitas pendidikan itu ada dan harus diakui,”lanjutnya.
Australia, ungkap Irene, bisa mengambil peran dalam bidang itu.Terlebih, secara geografis, letak Australia berdekatan dengan Indonesia. Malah, banyak yang menyebut Australia sebagai tetangga belakang halaman Indonesia.
“Faktor ini pula yang membuat mengapa hubungan dan kerja sama yang baik antar kedua negara ini makin penting,”tuturnya. Selain faktor pasar dan peningkatan kerja sama, ada juga faktor sejarah seperti yang ada pada NESO.
“Indonesia dan Belanda kan punya sejarah sejak zaman kolonial dulu. Saya kira itu salah satu alasan mengapa Indonesia adalah negara pertama di mana ada lembaga non-profit bidang pendidikan Belanda,” kata Liza Marsin, Education Promotion Manager NESO Indonesia. Selain di Indonesia, NESO juga ada di lima negara lain, antara lain di China dan Vietnam.
Pusat Informasi dan Konsultasi
LEMBAGA-lembaga non-profit itu punya tugas utama menjembatani antara pelajar Indonesia dan universitas-universitas yang bakal jadi tempat tujuan studi mereka.
Mereka menyediakan semua informasi yang diperlukan bagi pelajar Indonesia yang hendak melanjutkan studi di luar negeri.“Jadi,orangorang Indonesia tidak perlu susah-susah datang ke luar negeri hanya untuk mendapatkan informasi.Cukup datang ke kami saja,”tutur Liza.
Hampir semua informasi soal perguruan tinggi di negara tujuan ada di lembaga non-profit itu. Mulai brosur, leaflet, hingga form aplikasi. Semua informasi itu selalu diperbaharui sehingga tidak ada perbedaan antara informasi yang diberikan langsung oleh universitas dengan informasi yang diberikan oleh lembaga-lembaga non-profit itu.
Selain sebagai pusat informasi, lembaga non-profit itu juga memberikan konsultasi pada pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri.Semua lembaga-lembaga itu punya penasihat yang akan memberikan bimbingan dan panduan mengenai apa yang harus dipersiapkan dan dilakukan jika ingin bersekolah di masing-masing negara.
Konsultasi itu gratis alias tidak dipungut biaya sama sekali. “Konsultasi itu terbuka bagi siap saja yang berminat melanjutkan sekolah ke luar negeri,”sambung Liza. EAS misalnya,menyediakan konsultasi perorangan dengan janji bagi yang tertarik untuk melanjutkan studi di AS.
Setiap kantor EAS mempunyai penasihat yang akan memberikan informasi tentang kesempatan belajar di perguruan tinggi di AS. Penasihat tersebut akan membantu siswa menentukan tujuan pendidikan dan bidang studi yang menarik buat mereka. Peran sedikit berbeda diambil oleh BC Indonesia.
BC Indonesia memberikan konsultasi via e-mailkepada para pelajar Indonesia yang tertarik belajar di Inggris. Namun, jika ingin mendapatkan informasi yang lebih detail, BC Indonesia akan mempertemukan para pelajar Indonesia dengan perwakilan perguruan tinggi di Inggris. Hampir setahun sekali BC Indonesia menggelar pameran rutin pendidikan Inggris.
Administrator Beasiswa
LEMBAGA pendidikan non-profit luar negeri memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh konsultan pendidikan biasa.
Lembaga ini sering kali juga bertindak sebagai administrator beasiswa yang diberikan oleh pemerintah asal masing-masing lembaga itu. Manajer British Council (BC) Indonesia, Gusni Puspitasari mengatakan, saat ini BC adalah administrator bagi Chevening Scholarship milik pemerintah Inggris. “Kami yang mengurus soal beasiswa ini,” katanya.
Gusni menjelaskan, tujuan dari beasiswa yang disediakan oleh pemerintah Inggris ini adalah memberikan kesempatan bagi para generasi muda yang memiliki jiwa kepemimpinan dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi untuk meraih gelar master sesuai minat mereka. Denganitu, diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan negara asal mereka.
Begitu juga dengan Netherlands Education Support Office (NESO) yang menjadi administrator program beasiswa StuNed milik pemerintah Belanda. Beasiswa ini diprioritaskan bagi staf pemerintah (pusat dan daerah), aktivis LSM, staf pengajar di perguruan tinggi, juga para wartawan.
Ariono Hadipuro, Education Promotion NESO menjelaskan, pemberian beasiswa ini adalah salah satu bentuk hubungan Belanda-Indonesia, sehingga program beasiswa ini sering diselaraskan dengan titik berat pembangunan di Indonesia. Setiap tahunnya, ada sekitar 150–200 beasiswa StuNed ditawarkan di Indonesia.
“Sebenarnya, program beasiswa ini adalah bantuan pemerintah Belanda. Tetapi, tidak diberikan dalam bentuk uang, melainkan beasiswa karena dinilai lebih memberikan manfaat daripada dalam bentuk uang. Makanya, para penerima beasiswa ini diminta mengaplikasikan ilmunya untuk membangun masyarakat saat mereka kembali,” tukasnya.
Begitu juga dengan Educational Advising Service (EAS). Lembaga ini adalah administrator beasiswa Fulbright. Beasiswa yang digagas oleh senator asal Arkansas, J William Fulbright ini telah banyak memberikan kesempatan pada banyak pelajar di negara-negara di luar Amerika Serikat (AS) untuk belajar di sana. Begitu terkenalnya beasiswa yang sudah berusia 60 tahun ini, sampai muncul istilah “Fulbright Experience”.
Sebuah pengalaman baru yaitu ketika penerima beasiswa Fulbright banyak mendapatkan pengetahuan dan pengalaman selama kuliah di AS dan juga ketika kembali untuk menerapkan ilmu mereka. Sedangkan Australian Education Centre (AEC) juga berperan sebagai administrator bagi beasiswa AusAid milik pemerintah Australia .
Untuk lima tahun ke depan, sejak 2006 lalu, melalui beasiswa ini, pemerintah Australia memberikan kesempatan pada 9.200 mahasiswa dari hampir seluruh dunia untuk mendapatkan beasiswa ini dan melanjutkan kuliah di negeri Kanguru itu. (Helmi Firdaus)
Source: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/halaman-utama/pilih-kuliah-di-luar-negeri-atau-dalam-n-2.html
Ijazah Palsu, dari Siswa hingga Pejabat
Luapan bahagia diekspresikan dengan aksi coret-coret, yang sepertinya sudah menjadi ritual tahunan. Di Bali, untuk menghindari luapan kegembiraan berlebihan, para pelajar diharuskan memakai pakaian adat dan sembahyang untuk bersyukur.
Namun sayangnya, tidak semua merasakan kegembiraan itu. Di sudut kelas lain, terdapat pemandangan sebaliknya. Beberapa siswa menangis histeris. Ya, mereka adalah siswa yang gagal ujian. Mungkin bagi mereka, dunia seakan runtuh. Sebagian menangis histeris, ada pula yang mengeluarkan amarah pada guru dan sekolah mereka, bahkan beberapa siswa sampai nekat bunuh diri. Ya, gagal ujian memang peristiwa yang sangat membuat terpukul.
Mungkin itulah yang menyebabkan sebagian kalangan mencari jalan pintas. Apapun dilakukan demi melanjutkan pendidikan, dan demi mendapatkan ijazah. Salah satunya dengan membuat ijazah palsu. Memang kecurangan seperti ini sudah bukan barang baru. Beberapa tahun lalu tim Sigi SCTV pernah menelusuri jasa pembuatan ijazah di salah satu sentra penyewaan komputer di Jakarta.
Di sebuah kios rental komputer, dengan mudah kami memesan ijazah S1. Setelah sepakat membayar uang muka sebesar Rp 1.000.000, dengan sigap sang pemalsu langsung beraksi membuat ijazah asli tapi palsu, alias aspal. Kini, dengan pesatnya perkembangan teknologi, modus para pemalsu ijazah pun makin canggih, para pemalsu tak malu-malu mengiklankan diri di dunia maya.
Untuk lebih meyakinkan calon pelanggannya, mereka memberikan contoh ijazah palsu yang pernah dibuat di iklannya. Ijazah SMP, SMA, S1, bahkan S2 mereka jajakan di dunia maya dengan berani. Asal ada uang, gelar sarjana bahkan master, bisa "digenggam" dalam sekejap. Tak lupa, pemalsu mencantumkan nomor telepon di situsnya. Tetapi pemalsu ijazah biasanya hanya mau berkomunikasi melalui pesan singkat, atau SMS saja.
Untuk memastikan cara kerja pemalsu ijazah, Tim Sigi menemui anggota sindikat dengan berpura-pura membutuhkan ijazah SMA untuk keperluan lamaran kerja. Untuk membuat selembar ijazah SMA, harga dibanderol Rp 4.000.000, dengan blangko ijazah dijamin keasliannya. Dalam waktu hanya dua hari, ijazah aspal dinyatakan selesai dan siap diambil.
Parahnya lagi, pembuatan ijazah palsu ini, biasanya justru dibantu oleh orang dalam, yakni guru atau staf administrasi sekolah sendiri. Tiga tahun lalu, tim Sigi mendapati seorang kepala sekolah yang turun langsung terlibat membuat ijazah palsu. Ijazah palsu yang didapatkan pun ternyata memiliki blangko asli yang dikeluarkan dinas pendidikan terkait.
Penelusuran kami lanjutkan ke sebuah pusat belanja di Jakarta Pusat, menemui salah seorang penulis indah, yang biasa menulis ijazah dan sertifikat. Namun modusnya sedikit berbeda, ia hanya bisa membantu membuatkan ijazah palsu berbentuk fotokopi, bukan berupa blangko ijazah asli. Menurutnya, modus ini lebih aman, karena tidak bisa dideteksi keasliannya.
Biayanya pun lebih murah, untuk mendapatkan fotokopi ijazah yang sudah dilegalisir, paling mahal Rp 1.000.000.Modus lain yang kini digunakan adalah dengan ijasah yang dikeluarkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), sebuah lembaga pengajaran kelompok belajar paket A hingga C. Tim Sigi menemukan salah satu sentra PKBM yang mengaku menyimpan blangko ijazah asli.
Pengguna ijazah palsu ternyata bukan hanya siswa atau pelajar yang tidak lulus. Di Sragen, Jawa Tengah, Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei lalu diwarnai aksi unjuk rasa yang berakhir dengan kericuhan. Penyebabnya apalagi kalau bukan tuduhan warga terhadap bupatinya yang diduga menggunakan ijazah palsu.
Sampai kemarin, unjuk rasa tersebut masih berlangsung, bahkan cenderung anarkis karena melakukan pengrusakan, pembakaran ban bekas, dan menyerang polisi yang berjaga di depan Kantor Bupati. Tetapi tuduhan penggunaan ijazah palsu ditampik oleh sang bupati.
Unjuk rasa serupa juga terjadi di Polres Paser, Tanah Grogot, Kalimantan Timur yang menuntut penuntasan kasus dugaan ijazah palsu milik Bupati Paser, Ridwan Suwidi, yang berencana maju kembali dalam Pilkada. Tudingan ijazah berawal dari informasi yang LSM jaringan pemantau independen yang mencurigai keabsahan ijazah sang bupati yang akan maju kembali dalam pilkada.
Informasi ini ditindaklanjuti polisi dengan menggerebek sebuah rumah di pinggiran Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Dari rumah milik Gimin, sindikat pembuat ijazah palsu diringkus polisi. Polisi juga menemukan beberapa lembar ijazah palsu yang siap diberikan pada konsumennya. Mengejutkan, dari beberapa ijazah yang ditemukan, terdapat ijazah milik sang Bupati Ridwan Suwidi.
Sang pemilik rumah dan pemalsu ijazah digelandang ke kantor polisi. Tim sigi sempat mendatangi kawasan Tanah Grogot, yang berjarak tiga jam perjalanan dari Balikpapan. Namun sang bupati menolak memberikan keterangan.
Di luar itu, beberapa kilometer diluar pusat Kota Balikpapan, Tim Sigi masih mendapat informasi yang mengindikasikan masih aktifnya sindikat jual beli ijazah. Diduga ijazah yang dipalsukan berasal dari ijasah yang dikeluarkan PKBM sebuah lembaga pengajaran kelompok belajar paket A hingga C. Tetapi Ketua Forum PKBM Balikpapan membantahnya.
Bantahan boleh saja dilakukan, namun kenyataannya kegiatan pemalsuan ijazah tampak sulit dihentikan. Penangkapan para tersangka oleh polisi, ternyata tidak memberikan efek jera. Modus-modus baru justru bermunculan, dan bahkan dimanfaatkan oleh banyak pejabat yang seharusnya dapat memberikan panutan pada masyarakat.
Membidik Jurusan Favorit
Perguruan tinggi di Amerika Serikat (AS) tahun ini diperkirakan akan meluluskan 1,6 juta sarjana strata dua (S-2). Dengan jumlah tenaga yang siap kerja bertambah tentu akan terjadi persaingan dalam merebut peluang kerja. Apalagi saat ini jumlah pengangguran di AS mencapai 9,9 persen.
Kendati begitu, minat siswa yang akan masuk perguruan tinggi tidak surut. Umumnya, minat para siswa yang ingin meneruskan ke jenjang lebih tinggi disebabkan agar mereka punya kemampuan yang lebih kompetitif dalam menghadapi persaingan dunia kerja di masa mendatang. Karena itu, kebanyakan siswa di AS menganggap kuliah tidak sekadar mencari ilmu, tetapi juga bagaimana mampu mendapatkan peluang kerja dari bidang keilmuan yang mereka tekuni dalam kuliah. Menurut studi yang dilakukan majalah Forbes, studi asisten dokter menempati peringkat pertama yang menjanjikan karier di masa depan. Profesi ini umumnya akan bekerja sebagai perawat anestesi, perawat klinik spesialis, hingga direktur keperawatan. Gaji rata-rata yang ditawarkan pada sejumlah profesi di atas sebesar USD98.900 per tahun.
Ke depan diperkirakan akan ada pertumbuhan permintaan sebesar 39 persen terhadap profesi ini. Pertumbuhan tersebut juga diakumulasikan dengan kebutuhan akan penggantian tenaga kerja baru yang permintaannya mencapai 57 persen. Seperti disebutkan Forbes, salah satu orang yang beruntung mendapatkan pekerjaan sesuai bidang yang dipelajari semasa kuliah adalah Shane Tysinger yang saat ini bekerja di klinik Eden NC yang fokus pada pengobatan keluarga. Tysinger memiliki minat yang kuat pada bidang kedokteran. Sebelum bekerja di tempat yang sekarang, Tysinger sebelumnya mengajar di Sekolah Menengah Atas Davidson County, New York. Di sekolah itu dia juga mengajar perawatan kesehatan. Dia juga pernah memegang beberapa pekerjaan asisten medis sebelum menjadi guru.
Di sekolah dia selalu menjadi responden pertama untuk semua jenis darurat medis. Tetapi, Tysinger tidak puas hanya menjadi guru. Untuk itu, dia memilih program master asisten dokter selama dua tahun di Duke University pada 2006. Pilihan Tysinger rupanya tidak salah. Ketika lulus pada 2008 saat dunia sedang menghadapi resesi keuangan, tawaran menjadi asisten dokter justru tidak surut. Ditelisik dari penghasilan, profesi Tysinger saat ini lebih tinggi tiga kali lipat dari profesi guru yang sebelumnya dia geluti. ”Saya telah menemukan karier, dan saya akan terus menekuninya,” kata Tysinger seperti dikutip Forbes. Karena itu, di AS saat ini banyak yang mengikuti jejak Tysinger, kuliah strata dua (S-2) di jurusan asisten dokter. Saat ini dunia kesehatan Negeri Paman Sam membutuhkan banyak asisten dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik.
Karena itu, tidak heran jika pekerjaan ini memberikan prospek yang bagus dan menawarkan gaji yang besar. Wajar jika majalah Forbes menempatkan program asisten dokter menjadi jurusan favorit dalam penyaluran kerja. Pemeringkatan yang dilakukan Forbes dilakukan berdasarkan peluang terbaik, tawaran gaji pada dekade berikutnya. Jurusan favorit lainnya adalah ilmu komputer. Jurusan ini diperkirakan akan mengalami peningkatan permintaan sebesar 27 persen dengan gaji yang ditawarkan rata-rata USD111.000 per tahun. Di peringkat ketiga ada jurusan teknik sipil yang akan mengalami pertumbuhan sebesar 24 persen dan gaji rata-rata sebesar USD98.700 per tahun. Peringkat keempat adalah lulusan jurusan matematika. Para lulusan ini dijanjikan akan mendapatkan pertumbuhan permintaan sebesar 22 persen dengan gaji rata-rata sebesar USD96.900 per tahun.
Di peringkat berikutnya ada jurusan fisika yang peluang kerjanya diperkirakan akan meningkat 16 persen dengan gaji rata-rata USD110.000 per tahun. Selain merilis sejumlah jurusan terbaik, Forbes juga mengumumkan lima jurusan terbawah dari 30 jurusan yang disurvei. Peringkat terakhir ada jurusan keagamaan yang diperkirakan hanya mendapatkan gaji rata-rata sebesar USD54.200 per tahun dengan peningkatan permintaan sebesar 13 persen. Satu tingkat di atasnya adalah jurusan bahasa Inggris yang menawarkan gaji rata-rata USD61.700 per tahun dan pertumbuhan lowongan untuk jurusan ini hanya 9 persen.
Jurusan pendidikan berada di atas jurusan bahasa Inggris dan hanya mendapatkan permintaan sebesar 14 persen dengan gaji USD59.600 per tahun. Kemudian, jurusan konseling berada di urutan berikutnya (peringkat ke-27) yang diperkirakan akan mengalami pertumbuhan permintaan sebesar 17 persen dengan gaji rata-rata USD53.500 per tahun. Di peringkat ke-26 ada jurusan seni rupa yang hanya mengalami pertumbuhan permintaan sebesar 12 persen dengan gaji rata-rata USD63.900 per tahun. Pemeringkatan yang dikeluarkan Forbes ini tentu akan menjadi salah satu pertimbangan bagi sejumlah kalangan di AS untuk menentukan jurusan yang akan mereka pilih saat kuliah sehingga ketika menamatkan pendidikan, mereka tidak kesulitan dalam melangkah mencari pekerjaan di tengah persaingan yang ketat.
Perpaduan antara peluang dan gaji yang ditawarkan memang selalu menjadi pertimbangan utama dalam menentukan jurusan. Apalagi di AS seseorang bisa melihat perbandingan gaji yang diterima berdasarkan profesi. Informasi ini disediakan situs payscale. Berdasarkan situs ini, ada 30 gelar master teratas yang menjadi tujuan para sarjana untuk melanjutkan pendidikan. Gaji terbesar didapatkan pekerja di bidang sarjana teknik elektro yaitu sebesar USD121.000 per tahun. Sedangkan terendah adalah bidang konseling yaitu hanya USD53.500 per tahun. Survei ini didasarkan atas gaji pekerja yang berusia 43 tahun atau memiliki pengalaman kerja selama 15 tahun. Fenomena mencari jurusan yang sesuai peluang kerja bukan hanya terjadi di AS melainkan juga di semua negara, termasuk Indonesia.
Tidak heran jika profesi yang banyak dicari dalam dunia kerja berbanding lurus dengan jumlah minat pada pendidikan yang berpeluang mengisi pekerjaan yang ditawarkan.
sumber: http://suar.okezone.com/read/2010/05/30/283/337577/283/membidik-jurusan-favorit
Pentingkah Kuliah di Perguruan Tinggi?
Hal di atas menarik sekali. Di satu sisi kita dituntut untuk terus mencari ilmu, akan tetapi di sisi lain ada pernyataan bahwa pendidikan (perguruan tinggi) tidak memberikan apa-apa. Ada apa pada pendidikan (perguruan tinggi) sehingga tidak memberikan apa-apa?
Dalam dunia yang bergerak serba cepat seperti saat ini, belajar di sekolah dasar boleh dikatakan sebagai lembaga pendidikan yang paling penting. Di sekolah dasar seorang anak diperkenalkan dengan tulisan dan angka. Meskipun hal itu bisa diberikan oleh orang tua di rumah, namun karena kesibukan orang tua, memberikan pendidikan di rumah oleh orang tua menjadi sesuatu yang mustahil.
Selanjutnya, ketika anak sudah tamat sekolah dasar, bisa saja ia belajar melalui internet atau homeschooling. Akan tetapi sebagai mahluk sosial tentu saja mereka memerlukan kawan. Mereka tidak dapat hidup sendiri. Situs-situs pertemanan tentu tidak cukup untuk menggantikan pergaulan yang sesungguhnya. Setidaknya, pergaulan di sekolah menjadikan seorang anak lebih mengenal dunia yang lebih beragam.
Perguruan tinggi sangat diperlukan untuk menjaga ilmu pengetahuan. Manusia tidak mungkin hidup maju tanpa adanya riset di perguruan tinggi. Orang boleh menguasai pemrograman komputer, namun masih diperlukan orang-orang yang melakukan penelitian dalam menciptakan komputer yang lebih canggih lagi. Untuk kehidupan di masa mendatang, orang tidak cukup hanya mengandalkan komputer yang ada sekarang.
Orang boleh saja saat ini telah mampu membuat berbagai mesin yang ekonomis. Namun di masa mendatang orang masih harus menciptakan mesin-mesin fantastis yang saat ini masih ada dalam fantasi anak-anak muda. Untuk menciptakan fantasi itu menjadi kenyataan, tentu dibutuhkan riset yang mendalam. Peneliti independen mungkin melakukannya, namun karena diperlukan dana yang besar dan kolaborasi, maka hanya perguruan-perguruan tinggi saja yang mungkin melakukannya.
Pada sisi lain, orang bisa saja mendapatkan banyak informasi dari internet, namun akan tetap diperlukan orang-orang yang mengisi informasi di internet itu dengan informasi-informasi yang selalu diperbaharui. Mungkin saja orang-orang secara pribadi mengisinya dengan informasi-informasi terbaru. Namun untuk informasi yang berupa hasil penelitian, kemungkinan besarnya hanya dapat dilakukan oleh perguruan tinggi.
Apa arti semua itu?
Artinya, perguruan tinggi tetap diperlukan.
Lalu, bagaimana dengan sarjana lulusan perguruan tingginya?
Di sinilah letak permasalahan mengapa perguruan tinggi saat ini banyak tidak dipercaya oleh masyarakt/pasaran kerja. Tidak mungkin kita menutup mata, betapa banyaknya generasi muda dan bahkan orang-orang tua yang sekadar mencari gelar tanpa mengimbanginya dengan kemampuan akademiknya. Banyak juga generasi muda yang kuliah hanya sekadar mencari nilai (indeks prestasi). Celakanya banyak pula perguruan tinggi yang melacurkan fungsi akademisnya dengan mengobral nilai untuk mahasiswanya. Maksudnya, asalkan seseorang itu terdaftar sebagai mahasiswa, meskipun kemampuan akademisnya memprihatinkan, mereka akan mendapatkan nilai yang memuaskan.
Pernah terbaca di internet, seseorang menuliskan bahwa sebuah perguruan tinggi mengharuskan dosen memberi nilai minimal C untuk mahasiswanya. Tidak boleh memberi kurang dari itu. Padahal ketika diuji kemampuannya, kemampuan mahasiswa itu tidak berbeda dibanding kemampuan anak-anak SMA. Alasannya demi akreditasi. Memprihatinkan, bukan?
Namun perlu diingat, tidak semua perguruan tinggi seperti itu. Ada juga, bahkan masih cukup banyak perguruan tinggi yang menjunjung tinggi norma akademis sehingga tidak akan memberikan nilai yang tidak sesuai dengan kemampuan mahasiswanya. Tidak mengherankan pada perguruan tinggi kelompok ini, akan sulit bagi mahasiswanya untuk mendapatkan nilai tinggi apalagi meraih gelar cum laude. Padahal di beberapa perguruan tinggi, predikat cum laude ini amat mudah diperolah.
Ketika terjun di masyarakat – di lapangan kerja – barulah terlihat buktinya. Ada sarjana dengan nilai tinggi, namun tampak mereka canggung menghadapi perkerjaan yang menjadi tanggungjawabnya. Di sisi lain, banyak sarjana yang ber-IP rendah, namun begitu terampil dalam menghadapi pekerjaannya. Celakanya lagi, mahasiswa dari perguruan tinggi yang banyak menghasilkan sarjana cun laude itu, lebih banyak yang berhasil menduduki posisi sebagai pegawai negeri. Akibatnya berbagai kebijakan aparatur negara seringkali tidak sesuai dengan harapan masyarakat.
Yang lebih menggelisahkan adalah kenyataan bahwa perguruan tinggi membuat aturan batas minimal IP sarjana yang ingin melanjutkan kuliah di S2 ataupun S3 sebelum diberikan tes. Apalagi ini sering menjadi persyaratan mendapatkan beasiswa ikatan dinas. Tentu ini sangat merugikan bagi mahasiswa berprestasi yang kuliah di perguruan tinggi yang pelit dengan nilai. Kiranya perlu diperbaiki persyaratan nilai lulusan perguruan tinggi yang mau melanjutkan kuliah di S2 atau S3. Kita tahu, di perguran tinggi tidak memberlakukan ujian yang berlaku di seluruh perguruan tinggi secara nasional seperti halnya ujian nasional bagi anak sekolah. Perguruan tinggi mempunya standar yang berbeda-beda dalam memberikan nilai.
Setelah banyak mendiskuruskan masalah ini, saya akan mengakhiri tulisan ini dengan sebuah pernyataan, “Kuliah, bagaimanapun tetap penting. Tak tercipta ilmuwan modern dari luar perguruan tinggi”.
Marilah kita ke perguruan tinggi. Akan tetapi, pilihlah perguruan tinggi yang baik agar mampu membangun bangsa ini dengan lebih baik. Jangan rusak negeri ini dengan IP yang tinggi tapi kualitas rendah.
Bagaimana? Bersiaplah memilih perguruan tingi terbaik.
Universitas Islam Indonesia, penyelenggara lomba blog ini, tentu dapat menjadi alternatif di antara perguruan-perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Setidaknya, bertahannya kampus ini selama bertahun-tahun semenjak didirikan membuktikan bahwa perguruan tinggi ini bukanlah perguruan tinggi “abal-abal”.
sumber: http://willyedi.wordpress.com/2010/02/22/pentingkah-kuliah-di-perguruan-tinggi/
Peran dan Pengaruh Konten Lokal dalam Proses Pendidikan
Konten-konten global (yang berasal dari luar) sangat mendominasi pada media internet dan menunjukkan minimnya kreatifitas kita sebagai konsumen dari konten global tersebut Hal inilah yang menyebabkan banyaknya kebudayaan luar yang ditiru oleh masyarakat kita karena mereka mencontoh apa yang mereka lihat dari konten-konten tersebut. Masalah-masalah dampak negative yang berkembang dari internet akhir-akhir contohnya, itu adalah satu bukti pemahaman konten yang kurang baik. Oleh karena itu konten lokal sangat diharapkan berkembang dengan baik di Indonesia karena diharapkan dapat memajukan nilai-nilai sosial Indonesia dan sebagai warisan budaya kepada cucu-cucu kita. Saat ini konten lokal yang ada misalnya program acara Belajar Indonesia dimana seorang ekspatriat yang belajar kebudayaan Indonesia dari Sabang-Merauke, acara kuliner yang membahas tentang kekayaan kuliner Indonesia yang terdiri dari banyak suku dan kepulauan, juga program acara koper dan ransel atau program acara jejak petualang yang mengusung cerita tentang keadaan alam Indonesia yang kaya akan keindahan dan kebudayaan masyarakatnya. Konten-konten lokal itulah yang secara tidak langsung memberi pengetahuan bagi para audiencenya.
Konten-konten lokal yang berkembang di internet juga membutuhkan perhatian dari kita. Kita sebagai generasi muda dituntut untuk lebih kreatif dalam mengembangkan konten-konten lokal. Memang tidak perlu mengalahkan google, yahoo, atau blogspot tetapi kita bisa berusaha dari hal kecil yang mungkin lebih dibutuhkan masyarakat kita yang perlu pembelajaran yang lebih banyak mengenai konten lokal. Forum-forum atau komunitas-komunitas seperti kaskus, detik, okezone, kapanlagi.com, ngerumpi.com merupakan contoh konten lokal yang ada didunia maya. Kaskus adalah situs forum komunitas maya terbesar Indonesia dan sudah memiliki 1.531.352 member yang tidak hanya berdomisili di Indonesia saja. Situs ini sudah memiliki tempat sendiri bagi penggunanya.
Dengan pengembangan konten lokal ini semua aspek kebudayaan, kesenian, pendidikan yang asli dimiliki dan berasal dari Indonesia dengan ciri khas pekertinya dapat ditawarkan di luar dengan mudah kalau menggunakan akses internet. Kalau konten-konten local itu sudah mendunia dan berpengaruh, daya saing bangsa Indonesia akan tegar, tidak menutup kemungkinan mata dunia akan berguru kepada kita tentang isi dan hakekat yang kita miliki. Setidaknya perjuangan membangun konten lokal ini adalah juga perjuangan penyelamatan generasi. Menyelamatkan para anak muda dari konten-konten yang tidak mendidik di Internet. Ketika Internet kita penuhi konten-konten pendidikan, karier, peningkatan ilmu dan skill tentu lambat laun konten pornografi dan cracking akan tergerus. Pemerintah sendiri sudah cukup campur tangan dengan mulai membatasi konten-konten lokal di dunia maya dengan membuat UU ITE. Diharapkan dengan adanya undang-undang ini konten-konten di dunia maya dapat lebih bermanfaat sebagaimana mestinya.Sumber: http://kecebongdisco.blogspot.com/2010/03/peran-dan-pengaruh-konten-lokal-dalam_23.html
Media Pembelajaran yang Mengusung Konsep Edutainment
Pada hakikatnya proses belajar mengajar adalah proses komunikasi yang harus diciptakan atau diwujudkan melalui kegiatan penyampaian dan tukar menukar pesan atau informasi oleh setiap tenaga pengajar dan peserta didik. Pesan atau informasi dapat berupa pengetahuan, keahlian, skill, ide, pengalaman, dan sebagainya. Agar tidak terjadi kesesatan atau ambiguitas dalam proses komunikasi perlu digunakan sarana yang membantu proses komunikasi yang disebut media. Dalam proses belajar mengajar, media yang digunakan untuk memperlancar komunikasi belajar mengajar disebut Media Pembelajaran. Tantangan dalam dunia pendidikan yaitu menerapkan sistem pendidikan yang memungkinkan optimalisasi seluruh otak sehingga penerimaan, pengolahan,penyimpanan dan penggunaan informasi terjadi secara efisisen. Optimalisasi otak pada dasarnya adalah menggunakan seluruh bagian otak secara bersama-sama dengan melibatkan sebanyak mungkin indra secara serentak. Penggunaan berbagai media pembelajaran merupakan salah satu usaha membelajarkan seluruh bagian otak, baik otak kiri maupun kanan, rasional maupun emosional, atau bahkan spiritual. Permainan warna, bentuk, tekstur dan suara sangat dianjurkan. Dalam proses pembelajaran harus mampu menciptakan suasana gembira karena suasana gembira akan mempengaruhi cara otak dalam memproses, menyimpan dan mengambil informasi.
Model dan media pembelajaran yang menghibur dan menyenangkan disebut dengan edutainment (education entertainment). Edutainment adalah salah satu bentuk media pembelajaran yang dipenuhi nuansa menghibur dan menyenangkan dan mudah dicerna oleh penontonnya. Edutainment dirancang khusus untuk tujuan pendidikan yang penyajiannya diramu dengan unsur-unsur hiburan sesuai dengan materinya. Media yang mampu berperan sebagai tutor maupun ensiklopedia, akan menyediakan informasi dan umpan balik kepada siswa secara cepat. Siswa tidak hanya duduk dan mendengarkan secara pasif. Mereka harus berpikir, dan merespon. Akan tetapi media yang berbasis edutainment tidak menutup kemungkinan untuk didesain bagi siswa yang kurang aktif di kelas yaitu dengan memberikan simulasi yang bermakna serta interaktivitas media yang baik. Edutainment merupakan media berbasis komputer, TV dan video instruksional. Visualisasi ide dalam bentuk video instruksional sangat membantu pengauasaan materi dan dapat mempercepat pencapaian kompetensi. Visualisasi ide merupakan proses atau upaya agar sebuah pesan/ide dapat “digambarkan” dengan lebih nyata sehingga dapat dipahami secara mental. Visualisasi adalah mencoba mengurangi keabstrakan suatu konsep atau ide.
Media pembelajaran yang mengusung konsep edutainment ini sudah cukup berkembang di Indonesia. Di stasiun-stasiun televisi Indonesia sudah banyak program anak-anak yang berkonsep hiburan yang bertema pendidikan seperti Upin&Ipin, Dora The Explorer dan Blues Clues dari Nickelodeon, Star Kids Ya Iyalah, Laptop Si Unyil, Si Bolang Bocah Petualang, dan masih banyak yang lainnya. Para pelaku bisnis media sebenarnya sudah menyadari kebutuhan audience akan program-program televisi yang sangat mendukung dunia pendidikan ini, terutama bagi anak-anak mereka yang masih dibawah umur untuk menikmati hiburan yang belum pantas dinikmati diusia dini. Semakin banyak nya program-program sinetron yang tayang setiap hari, acara-acara gossip selebritis, dan berita kriminal yang kurang mengedukasi dikhawatirkan member efek yang buruk bagi anak-anak. Sebagai contoh misalnya program Upin Ipin yang bercerita tentang kehidupan anak-anak dan dalam setiap episodenya disisipkan nilai-nilai moral yang diharapkan dapat dicontoh dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan juga program Laptop Si Unyil yang kita tahu Unyil adalah icon jaman dahulu tetapi sesuai jaman yang semakin modern, Unyil tetap eksis dengan pengemasan program yang berbeda. Pada program tersebut setiap episodenya unyil melakukan liputan-liputan mengenai suatu hal. Misalnya liputan mengenai pabrik-pabrik pembuatan sesuatu dan liputan mengunjungi museum-museum di Indonesia. Dari liputan-liputan tersebut anak-anak mendapatkan wawasan yang bermanfaat dan mereka dapat berfikir untuk lebih kreatif. Program-program edutainment ini tentu berbeda dengan program-program kartun yang banyak rekayasa daripada nilai pendidikannya. Misalnya Smackdown, Spongebob dan Sinchan yang banyak menampilkan adegan-adegan yang tidak pantas ditiru. Oleh karena itu dalam pelaksanaanya media pembelajaran yang berkonsep edutainment ini harus terus diawasi agar tujuan dari media tersebut juga tersampaikan. Para orang tua dan pelaku bisnis media sangat berpengaruh dalam pengawasan ini. Pelaku bisnis media dituntut untuk memproduksi program-program yang lebih bermanfaat dari hanya sekedar sinetron dan reality show. Diharapkan media pembelajaran yang mengusung konsep edutainment ini semakin berkembang dengan baik Indonesia dan mendapat sambutan yang baik dari audiencenya.
Sumber: http://batikyogya.wordpress.com/2008/08/13/optimasi-ms-power-point-untuk-edutainment/
Manusia bisa Melayang Dijelaskan Secara Fisika
Fenomena mistis tersebut seperti kemampuan manusia melawan gravitasi dengan melayang di udara tanpa media apapun, yang ternyata bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan. Mereka disuguhkan peragaan langsung rahasia ilmu fisika melalui enam orang bermeditasi dan keenamnya kemudian bisa lompat melayang di udara walau hanya beberapa detik. Walau menghasilkan kekaguman dan hampir tidak masuk akal, ternyata semua ada penjelasan teori dan logikanya menggunakan ilmu fisika. “Keadaan seseorang dapat melayang di udara karena mengalami yang disebut transcendental meditation (TM). Dalam tubuh mereka telah terjadi kinerja otak yang koheren, sehingga dapat melayang,” ujar ahli TM Regianto. Ahli TM lainnya, I Wayan Sutrisna, menjelaskan bahwa fenomena tersebut sangat masuk akal dan dapat dijelaskan melalui teori fisika “Meissner Effect” atau teori tentang ketahanan dengan koherensi. Dalam teori “Meisnner Effect”, terbukti elektron yang disorder atau tidak beraturan dapat dengan mudah ditembus medan magnet. Sedangkan elektron yang koheren, tidak dapat ditembus medan magnet. “Inilah mengapa pikiran yang koheren dapat menangkal energi negatif dan tubuh kita bisa melayang di udara atau Yogic Flying,” katanya. Dijelaskan, dengan TM seseorang akan memancarkan energi positif, yang secara tidak langsung merangsang zat seretonin dalam tubuh yang membantu menjadi bahagia. Dalam TM Sidi, melayangkan tubuh bukanlah tujuan utama, tetapi yang dikehendaki adalah keselarasan dalam berpikir dan kesehatan tubuh. “Bahkan dampak positif tersebut tidak hanya dapat dirasakan orang yang bermeditasi tetapi juga oleh lingkungan sekitarnya,” tambah Sutrisna. |
Senin, 13 Juni 2011
PTN atau PTS?

Agenda rutin tahunan. Setiap berakhirnya tahun pelajaran dan pasca pengumuman kelulusan bagi siswa SMA/MA/SMK merupakan moment yang pas bagi perguruan tinggi untuk merekrut (baca: menyeleksi) calon mahasiswa baru. Tingginya motivasi lulusan SMA/MA/SMK untuk mengikuti SNMPTN ini menunjukkan bahwa, kebanyakan calon mahasiswa baru masih mendambakan untuk diterima di PTN.PTN Yes, PTS No
Apakah perguruan tinggi negeri (PTN) selalu lebih baik dari perguruan tinggi swasa (PTS)? jawabannya adalah tidak selalu. Ada PTS yang memiliki kualitas yang tidak kalah dengan PTN. Anggapan bahwa PTN selalu lebih baik dari PTS adalah mitos belaka yang selama ini telah dipercaya oleh banyak orang. Anggapan ini muncul karena perguruan tinggi negeri umumnya memiliki sumber daya yang lebih baik, misalnya jumlah dosen yang bergelar doktor lebih banyak. Hal ini disebabkan karena pada masa yang lalu pemerintah lebih memusatkan bantuannya kepada perguruan tinggi negeri.
Masyarakat juga sering beranbggapan bahwa PTS dengan biaya pendidikan yang lebih tinggi adalah perguruan tinggi yang bermutu. Padahal ini bukanlah satu-satunya patokan. Masyarakat perlu memperhatikan hal lain yang dapat membantuk menilai mutu suatu perguruan tinggi diantaranya adalah status akreditasi, fasilitas pendidikan yang tersedia, serta kualitas dan kuantitas dosen yang dimilikinya.
Selama ini, masyarakat punya anggapan “berlebihan” terhadap PTN. Mereka berpikir, PTN merupakan tempat pendidikan yang lebih baik daripada PTS, meski ada juga prestasi PTS yang justru mengungguli PTN. Bagaimanapun, citra masyarakat masih menomorsatukan PTN. Kalau terjadi persaingan ketat antara PTN dan PTS, jelas PTS, kalah satu langkah. Intinya, PTS masih diangap sebagai perguruan tinggi kelas dua. Tak sedikit, selama ini calon mahasiswa mendaftarkan ke PTN dulu, kemudian baru ke PTS jika gagal.
Terdapat beberapa, alasan mengapa para lulusan SMA/MA/SMK berjuang “mati-matian” mengikuti SNMPTN, antara lain: 1) akan ada rasa kebanggaan tersendiri, jika dapat diterima di PTN melalui persaingan yang cukup ketat; 2) kebanyakan calon mahasiswa masih percaya bahwa lulusan PTN memiliki nilai jual yang lebih “mahal” dibanding lulusan PTS; 3) adanya anggapan bahwa manajemen di PTN lebih “rapi” dibandingkan PTS; 4) fasilitas pendidikan di PTN dianggap lebih lengkap dibanding di PTS; 5) biaya pendidikan di PTS jauh lebih mahal; dan beberapa alasan lainnya.
Menyadari kenyataan di atas, tidak heran jika beberapa PTS “rela” mendompleng pada PTN untuk membagi-bagikan brosur penerimaan mahasiswa baru. Hal ini dapat kita saksikan, tatkala SNMPTN digelar, maka akan banyak dijumpai pihak yang bagi-bagi brosur PTS di sepanjang akses jalan peserta SNMPTN. Atas kenyataan inilah, maka seolah-olah PTS memang kampus kelas dua. Seolah-olah mereka harus “rela” menerima mahasiswa “sisa” dari PTN. Tetapi, patut kita apresiasi bahwa beberapa waktu lalu, Januari 2009 beberapa PTS di Indonesia telah menggelar UMB (ujian masuk bersama) –sama seperti SNMPTN. Ini merupakan satu langkah maju bagi PTS. Bahkan, kabarnya akan ada UMB tahap II yang akan digelar pada Agustus nanti.
Menakar Persaingan PTN dan PTS
Di tengah pesatnya persaingan antara PTN dengan PTS atau persaingan sesama PTS membuat para lulusan SMA/MA/SMK harus selektif untuk memilih perguruan tinggi tempat kuliah. Mengapa? Saat ini promosi gencar dilakukan beberapa perguruan tinggi, baik PTN maupun PTS. Layaknya kampanye pilpres. Iklan, spanduk, brosur dapat mudah ditemui di tempat-tempat umum. Sebagaimana biasanya, kebanyakan iklan tersebut hanya menginformasikan yang baik-baik saja, bahkan tidak jarang mengandung “penipuan”.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi calon mahasiswa baru adalah bagaimana kondisi riil kampus yang akan dipilih. Pemilihan, seyogyanya tidak hanya didasarkan atas status negeri maupun swasta ansich. Karena, kualitas sebuah perguruan tinggi (PT) kini tidak lagi bisa hanya diukur dari negeri atau swasta. Kualitas PT dapat dilihat dari fasilitas pendidikan, laboratorium, perpustakaan, dosen, karya tulis dan hasil riset, prestasi akademik mahasiswa, hasil akreditasi program studi, dan sarana pendukung lainnya yang dipilih. Ini yang jarang dilihat oleh calon mahasiswa ketika ia menentukan PT, terutama PTS mana yang akan dipilih. Sebagian besar di antara mereka hanya memilih karena nama besar dan bangunan kampus yang megah. Kebanyakan informasi didapat dari teman, website atau justru brosur/iklan.
Terkadang, banyak kampus yang memiliki gedung mewah, namun fasilitas belajarnya masih belum mencukupi. Bahkan, dosen yang dimiliki pun masih banyak yang berpendidikan S-1. Profesionalitas tenaga pengajar memang harus dibuktikan dengan kemampuan akademis sang dosen. Ini tentu tidak bisa dibuktikan oleh calon mahasiswa apalagi mereka belum pernah berinteraksi dengan yang bersangkutan. Seorang dosen lulusan S-1 tentu secara akademik berbeda dengan lulusan S-2 ataupun S-3. Terlebih, bagaimana budaya akademik di PT yang bersangkutan. Karena, salah satu faktor yang mendukung pembelajaran di PT adalah lingkungan yang “kondusif” (baca: tradisi akademik sivitas akademika).
Namun, calon mahasiswa juga harus cermat karena tak jarang PT yang hanya memasang “nama besar” seorang dosen untuk “menjual” PT-nya. Reputasi PT dan prestasi akademik mahasiswa merupakan akibat dari dipenuhinya fasilitas pendidikan dan adanya tenaga pengajar yang profesional. Tidak sedikit PT di Indonesia yang memiliki catatan baik karena dukungan fasilitas dan dosen yang handal. Biasanya, PT yang demikian selalu melahirkan alumni besar, yang berkiprah di tingkat nasional. Ini dapat dijadikan ukuran untuk menilai sebuah PT.
Objektivitas Stakeholder dan Tantangan PT
Tentunya, bagi stakeholder juga harus objektif untuk menjaring lulusan dalam penerimaan kerja. Seleksi kerja, sudah bukan waktunya lagi mendahulukan lulusan PTN, dan menomorduakan alumni PTS. Namun, stakeholder harus melihat dari sisi kualitas sumber daya manusianya. Terlepas, dari mana asalnya. Tidak peduli, apakah lulusan PTN atau PTS; lulusan luar negeri atau dalam negeri. Yang terpenting adalah, secara kemampuan dapat dipenuhi dan tak diragukan. Dengan demikian, maka bagi calon mahasiswa baru yang masih “ragu’ragu” untuk memilih perguruan tinggi, maka sudah saatnya untuk kembali fokus memilih PT yang benar-benar terbukti telah menghasilkan lulusan berkualitas dan berdaya saing tinggi.
Baik PTN dan PTS harus dapat memikirkan “nasib” masa depan calon sarjana baru di tengah-tengah arus globalisasi pada abad ke-21. Perguruan tinggi harus mampu menangkap peluang dan memanfaatkan potensi para calon sarjana baru. Perguruan tinggi tidak semata-mata mementingkan bisnis dan mengeruk keuntungan yang melimpah ruah. Jangan lupa, adanya lembaga perguruan tinggi merupakan mitra pemerintah dalam mencetak generasi penerus bangsa yang dapat dimanfaatkan dalam mengisi pembangunan. Kita masih ingat dulu betapa banyak bangsa asing yang mau belajar ke Indonesia. Sekarang jadi berbalik, kita yang justru pergi ke luar negeri belajar dengan mereka.
sumber: http://simuzz.blogspot.com/2011/02/ptn-atau-pts.html
Budayaku Terkikis, Identitasku Semakin Hilang
Secara etimologis, kata kebudayaan berasal dar budhayah (Bahasa Sansekerta), jamak dari kata budhhi yang artinya budi atau akal. Atau dasar kata tersebut, kebudayaan diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal atau budi. Dalam istilah antropologi, kebudayaan sebagai terjemahan dari kata culture, berasal dari kata latin Colore. Artinya mengolah atau mengerjakan yaitu mengolah tanah atau bertani (berkaitan dengan alam). Berangkat dari arti kata tersebut maka culture diartkan sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam.
Budaya adalah identitas suatu bangsa. Budaya merupakan identitas yang secara kodrat dimiliki dan melekat pada setiap manusia sejak Ia dilahirkan. Dimana budaya itu menunjukan identitas pribadi, yang menunjukan iapun salah satu bagian dari suatu komunitas. Identitas tersebut meliputi segala macam unsur yang tergabung di dalamnya.
Kebudayaan memunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat. Kebutuhan masyarakat bidang spiritual dan materiil sebagian besar dipenuhi oleh kebudayaan yang bersumber pada masyarakat itu sendiri.
Hasil karya masyarakat melahirkan teknologi atau kebudayaan kebendaan yang mempunyai kegunaan utama di dalam melindungi masyarakat terhadap lingkungan alamnya.
Budaya dimiliki oleh tiap orang yang dipercayai sebagai identitasnya. Tiap suku memiliki budaya yang khas berbeda-beda. Budaya itu menjadi sesuatu yang sangat penting. Sebab dengan adanya budaya itu dengan mudah kita bisa mengetahui darimana ia berasal. Secara otomatis dengan melihat budaya itu kita bisa mengetahui budaya orang. Hal ini terlihat jelas karena setiap budaya memili sejarah yang berbeda-beda.
Unsur-unsur budaya meliputi, bahasa, pakaian adat, gaya hidup dan lain-lain. Sehingga budaya dianggap sangat penting dan perlu dipelajari serta diketahui oleh stiap orang. Sebab bila tidak mengetatuhi budaya yang sebenarnya maka seakan-akan seperti seseorang yang tidak memunyai identitas. Tidak dibatasi bagi setiap orang untuk mempelajadi budaya orang lain, namun perlu diketahui bahwa setiap orang tidak perlu terpengaruh dengan budaya orang lain tesebut, karena setiap orang didunia memunyai budaya yang beraneka ragam. Hal ini diikuti dengan kebiasan hidup pada suatu komunitas tertentu, yang mana kebiasaan dalam suatu komunitas itulah yang disebut budaya. Apapun jeleknya budaya, harus mencintai budaya itu, dengan cara ini secara tidak langung menghargai akan segala cipta, rasa dan karsa dari para pendahulu.
Aku Papua dan Aku Begini Adanya
Pada zaman ini budaya semakin tidak terlalu serius diperhatiakan dan dianggap sebagai Sesutu yang tidak berate pada hal budaya merupakan identitas kita. Bahkan pada zaman sekarang budaya semakin tidak jelas dan semakin campur baur dengan budaya luar yang masuk. Contoh yang paling kongkrit yang kita bisa lihat dalam kehidupan sehari-hari adalah, gaya hidup dengan pirang rambut, pergi ke salon, minum bir (minuman beralkohol), mengubah warna kulit, membuat model rambut yang tidak asli (tarik, rebonding, dan lain-lain).
Begitu pun gaya hidup yang semakin tidak sesuai dengan tuntutan adat dan istiadat. contohnya dance, kewa, dan acara-acara yang sering diadakan oleh para remaja dan kaum muda pada umumnya. Tidak beda jauh dengan gaya bahasa sehari-hari yang kita gunakan. Secara tidak sadar bahasa yang kita biasa gunakan dalam sehari-hari pun telah berubah, contohnya, nggak, nda, lho. gue, beta, dll. Semuanya itu bukan bahasa (dialek) kita perlu ketahui bahwa sebenarnya hal semacam ini kita terpengaruh akibat kebiasaan kita menyaksikan tayangan sinetron yang biasanya bitayangkan melalui media audio visual setiap hari. Dampak ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, sebab kebanyakan orang tua sering menyaksikan sinetron tanpa memikirkan dampak yang diakibatkan oleh tayangan tersebut, secara tidak sengaja dengan semakin banyak ditontonkan kepada anak-anak maka anak-anak pun merekam semua adegan-adegan yang dimainkan, sebab otak anak kuat untuk merekam apa saja yang dilihat, dan didengar. Demikian pula dengan film-film hollywood.
Semua dampak itu akan berpengaruh terhadap gaya hidup maka semua orang perlu menyadari apa yang dibuat dan dilakukan oleh setia orang. Apabila dampak itu terjadi maka pihak orang tua bertindak sebelum terjadi dampak yang lebih besar, dan sebelum terjadinya pengaruh yang dipengaruhi oleh film-film yang ditonton oleh anak-anak itu maupun gaya hidup yang tidak wajar yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Era globalisasi adalah zaman dimana semua hal untuk masuk ke suatu wilayah terbuka dengan lebar. Hal ini didalamnya terdapat gaya hidup orang luar untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari ikut terbawa. Dalam kondisi seperti inilah eksistensi budaya kita (budaya Papua) diuji. Kita adalah manusia yang berbudaya, walaupun berbagai pengaruh dan gaya hidup yang tidak wajar daam kehidupan sehari-hari pun yang terpenting bagi kita adalah bagaimana kita melestarikan dan menjaga budaya kita ditengah-tengah maraknya budaya modern yang masuk. Pastinya setiap budaya mengajarkan hal-hal yang baik oleh suatu budaya, namun bagi kita bias meniru kebiasaan orang lain yang dianggap tidak memojokkan budaya kita sendiri.
Setiap generasi memunyai tanggung jawab dalam memperhankan gaya hidup masing-masing budaya, Bila generasi kita berhasil melestarikan dan menjaga budaya kita maka itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi kita. Oleh karena itu, mari kita menjaga diri agar tidak terjerumus dalam dampak-dampak negatif dan katakan tidak pada budaya dari luar yang menjadikan budaya kita punah.
Kalo ko merasa ko orang Papua yang mendiami di Pulau Papua, mari tong jaga tong pu budaya untuk menghargai para pendahulu kita.
*** Semoga***
Mahaiswa Jurusan Broadcasting, Komunikasi Massa, STIKOM Jayapura, Alumni SMA Adhi Luhur Nabire 2010
sumber: http://pendidikanpapua.blogspot.com/2011/04/budayaku-terkikis-identitasku-semakin.html
Alasan Di Balik Pentingnya Belajar Bahasa Inggris
Sudah lama penguasaan bahasa Inggris menjadi pengetahuan yang perlu dipelajari oleh orang Indonesia. Mulai dari tahun 60’an hingga sekarang, pelajaran bahasa Inggris menjadi subyek yang tidak kalah gengsinya dari pelajaran lain seperti Matematika dan IPA. Besarnya kebutuhan untuk belajar bahasa Inggris telah membuat pengetahuan ini menjadi sebuah komoditas bisnis tersendiri. Lembaga pengajaran bahasa Inggris swasta pun bermunculan seperti LIA, Jakarta College, Oxford, BBC, IEC, EF, TBI dan lain-lainnya. Orang tua kemudian seperti berlomba-lomba untuk mengirimkan anak mereka untuk mengikuti kursus di salah satu lembaga pengajaran bahasa Inggris yang sudah disebutkan di atas. Jika dulu anak Indonesia baru mempelajari bahasa Inggris pada tingkat SMA, sekarang mereka memulainya pada tingkat yang lebih dini, SD, dan kalau perlu TK. Oleh karena orang Indonesia masih menganut budaya Timur yang agak totok, anak tidak boleh protes apabila diharuskan ayah ibunya untuk mempelajari bahasa Inggris. Lucunya, banyak orang tua yang mengharuskan anaknya mengikuti kursus bahasa asing yang satu ini tanpa mampu memberikan satu alasan yang jelas mengapa bahasa Inggris itu penting bagi mereka, serupa dengan pameo tentang pentingnya belajar matematika. Anak pun belajar bahasa asing ini hanya karena orang tuanya bilang itu sebagai subyek yang penting. Masih banyak orang tua murid yang beranggapan bahwa bahasa Inggris dapat membuat seseorang sukses dalam hidup, mampu membuat orang mendapat pekerjaan bagus, mampu membuat orang pergi ke luar negeri, dan lainnya. Huh, seandainya saja hidup semudah itu. Lewat tulisan ini, saya menyatakan faktor geografi, komunikasi, akses pada informasi menjadi tiga alasan yang masuk di akal di balik perlunya belajar bahasa Inggris bagi orang Indonesia.
Pertama, Indonesia dikelilingi oleh negara-negara yang kebanyakan penduduknya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pertama atau kedua. Negara-negara tersebut adalah Singapura, Malaysia, Filipina, Australia, Selandia Baru, dan Papua Nugini. Selain di negara ini, dimana lagi sih ada orang yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu? Bahasa Melayu dan Indonesia memang masih bersaudara tapi belum tentu orang-orang dari Malaysia dan Indonesia saling memahami satu sama lainnya saat berbicara dengan bahasa masing-masing. Yang menguasai bahasa Indonesia di Singapura saja tidak banyak apalagi di Australia, Papua Nugini, atau Filipina. Faktor geografis menjadi alasan pertama mengapa orang Indonesia perlu mempelajari bahasa Inggris. Apabila suatu saat nanti seorang WNI bepergian ke salah satu negara yang disebutkan di atas, bekal pengetahuan bahasa Inggris akan mempermudah orang itu dalam berkomunikasi dengan warga negara setempat. Hal ini juga terjadi di negara Belanda. Di sana, murid-murid pada tingkat SMA memang dianjurkan mempelajari dan menguasai bahasa asing mengingat bahasa Belanda tidak dipakai oleh negara di sekelilingnya. Jerman memakai bahasanya sendiri. Belgia memakai Perancis. Di seberang selat, ada negara Inggris.
Alasan kedua dan paling umum, bahasa Inggris perlu dipelajari karena penggunaan luasnya sebagai bahasa komunikasi Internasional. Agar dapat melakukan komunikasi dengan orang-orang yang berbeda latar belakang budaya dan kenegaraan, bahasa Inggris menjadi pilihan utama yang sering dipakai dalam melakukan komunikasi. Contoh yang mudah dilihat ada di dunia pariwisata. Para wisatawan yang melakukan perjalanan di negara asing lazim menggunakan bahasa Inggris untuk dapat berkomunikasi dengan warga negara asli yang dikunjunginya. Bukan hanya penutur jati bahasa Inggris, wistawan yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu juga memilih bahasa Inggris sebagai lingua franca-nya. Orang Jepang yang melancong ke Indonesia, menggunakan bahasa Inggris apabila dia hendak menanyakan sesuatu pada orang pertama yang ditemuinya di jalan. Wisatawan Indonesia yang berjalan-jalan di Paris akan sangat senang sekali apabila bertemu dengan penduduk setempa yang menguasai bahasa Inggris untuk dimintai bantuannya. Juga kecil kemungkinannya ada orang Italia yang berani berwisata ke India tanpa memiliki bekal bahasa Inggris yang memadai. Bahasa Inggris juga menjadi bahasa pengantar resmi dalam dunia transportasi udara dan laut. Pilot pesawat, apapun kewarganegaraanya, dilatih untuk menguasai bahasa Inggris agar dapat berkomunikasi dengan pihak menara pengawas bandara yang menjadi tujuan pesawat yang diterbangkannya. Apakah dia menerbangkan pesawat di Asia atau di Afrika, dia harus berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Begitu pula pihak menara pengawas bandara pun harus mahir berbicara dalam bahasa Inggris, karena pesawat yang mendarat di bandara tidak hanya datang dari satu negara tapi juga manca negara. Tidak bisa dibayangkan rupanya apabila para pilot dan petugas menara pengendali harus menguasai seluruh bahasa di dunia ini. Sama halnya dengan dunia pelayaran, bahasa Inggris adalah bahasa komunikasi resmi. Para petugas pelabuhan yang mengendalikan situasi akan selalu berhadapan dengan kedatangan kapal-kapal asing. Agar komunikasi lancar, petugas dan Syahbandar harus mampu berbicara dalam bahasa Inggris dengan kapal yang mana nahkodanya datang dari Amerika, Rusia, Perancis, Afrika Selatan, Korea, ataupun kepulauan Salomon. Agar urusan pekerjaan lancar, para pelaut dan petugas pelabuhan musti menggunakan satu bahasa yang umum dan netral.
Informasi yang bersikulasi di dunia ini kebanyakan diterbitkan dalam bahasa Inggris. Buku-buku banyak yang diterbitkan dalam bahasa Inggris. Tidak soal siapa yang menerbitkannya, yang pasti untuk memperoleh pasar yang luas banyak penerbit menerbitkan bacaan dalam bahasa Inggris. Majalah besar seperti Newsweek, Time, Vogue, Bazaar, People, Life, National Geographic, MacWorld dll ditulis dan diterbitkan dalam bahasa Inggris. Koran seperti Washington Post, New York Times, Wall Street Journal, dan Sun juga terbit dengan bahasa Inggris. Buku-buku ilmiah pun terbit dalam bahasa Inggris. Apabila ada bahan bacaan yang terbit dalam bahasa non-Inggris, maka terjemahan bahasa Inggris pun pasti langsung dibuat dan dipasarkan. Website populer di dunia internet lebih banyak menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar untuk artikel di dalamnya, lihat saja Yahoo, Google, Wikipedia, Amazon, YouTube, dan Reuters. Acara televisi populer di seluruh dunia–F1, MotoGP, World Cup, Champions, American Idol, 24, CSI, MacGyver, dll–disajikan dengan bahasa pengantar Inggris. Stasiun televisi terkenal di dunia juga disiarkan dalam bahasa Inggris–CNN, BBC, NBC, Discovery, National Geographic, Animal Planet, ESPN, HBO, dan masih banyak lainnya. Jurnal ilmiah yang bersirkulasi di antara universitas elit dunia juga tercetak dalam bahasa Inggris. Bahan referensi yang tersedia di universitas-universitas di Indonesia pun secara tidak langsung mengharuskan mahasiswa untuk memiliki bekal pengetahuan bahasa Inggris. Apapun minat Anda, informasi yang tersedia di sekitar Anda saat ini mensyaratakan pengetahuan bahasa Inggris yang akan sangat membantu dalam menambah pengetahuan dan memperluas wawasan. Ketrampilan bahasa Inggris yang dimiliki seseorang akan menolong dia untuk mengakses hal-hal yang selama ini tidak ada di dalam bacaan-bacaan yang terbit di Indonesia. Karena itu, kemampuan berbahasa Inggris akan memudahkan orang Indonesia untuk mengembangkan wawasan pengetahuannya dengan memberikan akses pada pengetahuan yang ada di luar Indonesia.
Berdasarkan ketiga alasan di atas, pengetahuan bahasa Inggris untuk perkembangan seorang individu di negara Indonesia menjadi suatu hal yang tidak terelakan. Suka tidak suka, subyek yang satu ini menjadi hal yang perlu dipelajari oleh setiap orang Indonesia. Biarpun Anda tidak yakin akan mendapat kesempatan untuk ke keluar negeri, pengetahuan ini tetap diperlukan juga. Minimal, Anda tidak perlu terbengong-bengong ketika menonton siaran berita CNN lantaran tidak ada terjemahan di bagian bawah layar televisi atau bingung saat membaca buku manual penggunaan alat elektronik yang hanya tercetak dalam bahasa Inggris.
http://todoeducare.posterous.com/alasan-di-balik-pentingnya-belajar-bahasa-ing
Tidak Perlu Ijazah = Tidak Realisitis?
Dalam artikel di Republika yang melansir pendapat Wakil Mendiknas, Fasli Jalal:
Masalah pengangguran terus menggelayuti negeri ini. Bahkan hampir 30 persen lulusan terdidik di Indonesia, baik dari tingkat SD hingga lulusan kampus tak terserap dunia kerja. Bahkan penyumbang paling dominan pengangguran tersebut adalah angkatan kerja lulusan perguruan tinggi.
Masih dari artikel yang sama:
Intinya, persoalan munculnya pengangguran dari lulusan perguruan tinggi itu tidak bisa dijawab dengan selembar ijazah.
Banyak orang tidak mengerti mengapa ada orangtua homeschooling yang membebaskan anak-anaknya tidak memiliki ijazah sekolah, dan menganggap orangtua homeschooling yang demikian itu idealis dan tidak realistis. Padahal Wakil Mendiknas saja sudah mengakui secara publik bahwa mengandalkan ijazah saja tidak ada manfaatnya.
Jadi sebenarnya orangtua homeschooling itu malah sangat realistis dan pragmatis, dan yang sedang berada dalam utopia itu adalah orang-orang yang masih mendewa-dewakan ijazah.
Tidak usah menunggu 10-20 tahun lagi untuk buktinya, sekarang pun kalau kamu punya kemampuan yang riil dan bermanfaat bagi orang lain, tidak ada yang merasa perlu menanyakan ijazahmu dan mereka akan bersedia membayar bayaran mahal yang kamu minta. Sedangkan lulusan perguruan tinggi yang berijazah tanpa kemampuan yang bisa diandalkan, seperti artikel berita tadi, hanya menambah-nambahi angka pengangguran saja.
If you’re AWESOME, nobody cares about your diploma or degree! Really!
Sumber: http://homeschooling-indonesia.com/tidak-perlu-ijazah-tidak-realistis/
10 Universitas Terbaik di Dunia
Universitas ini merupakan salah satu universitas paling terkemuka dalam riset. Caltech mempertahankan penekanan kuat dalam ilmu alam dan teknik. Caltech memiliki dan mengoperasikan kompleks penerbangan luar angkasa "autonomous" yang memimpin di dunia dikenal dengan Jet Propulsion Laboratory. JPS mengamati desain dan operasi dari banyak penjajakan luar angkasa NASA; tidak seperti "National Laboratories" (Laboratorium Nasional AS) dan Pusat Luar Angkasa NASA lainnya, fasilitas JPS hanya dalam kontrak ke pemerintah.
9. Massachusetts Institute of Technology (MIT), United States
MIT merupakan pemimpin dalam sains dan teknologi, dan juga banyak bidang lainnya, termasuk manajemen, ekonomi, linguistik, ilmu politik, dan filosofi. Departemen dan sekolah yang paling terkenal adalah Lincoln Laboratory, Computer Science and Artificial Intelligence Laboratory, Media Lab, Whitehead Institute dan Sloan School of Management. 59 dari anggota sekarang atau dahulu dari komunitas MIT telah memenangkan Penghargaan Nobel.
8. Princeton University, United States
Universitas Princeton, terletak di Princeton, New Jersey, adalah institusi pendidikan tinggi tertua keempat di Amerika Serikat. Salah satu universitas terkemuka di negara tersebut, Princeton memiliki bidang arsitektur, teknik, dan urusan internasional dan publik baik prasarjana maupun sarjana yang terkenal. Riset dijalankan di banyak bidang, termasuk fisika plasma dan propulsi jet. Universitas ini berhubungan dengan Brookhaven National Laboratories.
Perpustakaan Harvey S. Firestone Library (dibuka 1948) dan museum seni menyimpan koleksi yang luar biasa. Dia didirikan sebagai College of New Jersey pada 1746, dan awalnya terletak di Elizabeth, New Jersey. Sekolah ini kemudian pindah ke Princeton pada 1756, masih dengan nama awalnya. Namanya kemudian resmi diganti "Princeton University" pada 1896.
7. University of Chicago, United States
The University of Chicago atau Universitas Chicago (biasanya disebut sebagai Chicago atau UChicago) adalah sebuah universitas swasta, yang fokus pada penelitian coeducational dan terletak di Chicago, Illinois, Amerika Serikat. Universitas Chicago didirikan oleh pengusaha minyak dermawan bernama John D. Rockefeller pada tahun 1890; William Rainey Harper menjadi presiden atau rektor pertama pada tahun 1891 dan kelas-kelas pertama diadakan pada tahun 1892.
6. University of OXFORD, United Kingdom
Universitas Oxford adalah perguruan tinggi tertua berbahasa Inggris yang berlokasi di kota Oxford, Inggris.[4] Sejarah universitas ini dapat ditelusuri paling tidak mulai akhir abad ke-11, walaupun tanggal tepat pendiriannya tetap tak jelas. Menurut legenda, setelah pecahnya kerusuhan antara mahasiswa dan penduduk kota pada tahun 1209, beberapa akademisi Oxford melarikan diri ke timur laut, ke kota Cambridge, dan mendirikan Universitas Cambridge. Kedua universitas ini sejak itu telah saling bersaing satu sama lain, dan merupakan perguruan tinggi paling selektif di Britania Raya.
5. Imperial College London
Imperial College London, peringkat universitas terbaik kelima di dunia untuk 2009. Imperial College London adalah beasiswa universitas kelas dunia, pendidikan dan penelitian di bidang ilmu pengetahuan, teknik dan kedokteran, khususnya berkaitan dengan aplikasi mereka di industri, perdagangan dan kesehatan. College ini memiliki lebih dari 3.000 staf akademik dan penelitian dan hampir 14.000 siswa dari lebih 120 negara yang berbeda.
4. UCL (University College London)
UCL (University College London) peringkat universitas terbaik keempat di Peringkat Universitas Dunia 2009. UCL adalah universitas multidisiplin dengan reputasi internasional untuk kualitas penelitian dan pengajaran di seluruh spektrum akademik, dengan mata pelajaran mencakup ilmu-ilmu, seni, ilmu sosial dan biomedis. Pada tahun 2008 Research Assessment Exercise (RAE) UCL dinilai universitas penelitian terbaik di London, dan ketiga di Inggris secara keseluruhan, untuk jumlah pengiriman yang yang dianggap kualitas terdepan di dunia. Universitas ini terletak di sebuah situs kompak di jantung kota London dan dikelilingi oleh konsentrasi terbesar perpustakaan, museum, arsip, lembaga budaya dan badan-badan profesional di Eropa.
3. Yale University, United States
Universitas Yale dinilai sebagai universitas terbaik ketiga di Dunia Peringkat Universitas 2009. Yale University adalah salah satu sekolah yang paling terkenal di Amerika Serikat, dengan sejarah panjang layanan dan daftar alumni yang berbunyi seperti "Who's Who" dari orang-orang sukses. Universitas Yale adalah pemenuhan visi Eropa kebebasan intelektual yang bertujuan melayani masyarakat dan negara. Ini telah memperjuangkan sepanjang sejarah dan selamat dari bencana yang paling merusak seperti Revolusi Amerika. Sejak itu, universitas telah terus tumbuh dan berkembang menjadi pusat pendidikan berkualitas tinggi yang diakui oleh masyarakat global. Universitas ini dianggap sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi tertua di Amerika Serikat. Perusahaan ini didirikan pada 1701 dan merupakan anggota kebanggaan Liga Ivy yang bergengsi.
2. University of Cambridge, United Kingdom
Universitas Cambridge dinilai yang terbaik kedua di Peringkat Universitas Dunia 2009. Universitas Cambridge adalah salah satu universitas tertua di dunia dan salah satu yang terbesar di Inggris. Reputasinya untuk prestasi akademis yang luar biasa dikenal di seluruh dunia dan mencerminkan pencapaian intelektual mahasiswa, serta penelitian asli kelas dunia yang dilakukan oleh staf Universitas dan Sekolah Tinggi. Reputasinya didukung oleh Quality Assurance Agency dan oleh peninjau eksternal lain belajar dan mengajar, seperti Penguji Eksternal. Standar-standar yang tinggi adalah hasil dari kedua kesempatan belajar yang ditawarkan di Cambridge dan sumber daya yang luas, termasuk perpustakaan, museum dan koleksi lainnya. Pengajaran terdiri tidak hanya dari kuliah, seminar dan kelas praktis dipimpin oleh orang-orang yang ahli di bidang dunia mereka, tetapi juga mengajar lebih personal diatur melalui Colleges. Banyak peluang bagi siswa untuk berinteraksi dengan ulama dari semua tingkatan, baik secara formal dan informal.
1. Harvard University, United States
Universitas Harvard dinilai sebagai universitas nomor satu di Peringkat Universitas Dunia 2009. Harvard adalah institusi Amerika tertua pendidikan tinggi, yang didirikan 140 tahun sebelum Deklarasi Kemerdekaan ditandatangani. Universitas telah berkembang dari sembilan siswa dengan master tunggal untuk Masuk lebih dari 18.000 kandidat derajat, termasuk mahasiswa dan siswa di 10 unit akademik utama. Sebuah tambahan 13.000 siswa yang terdaftar dalam program satu atau lebih di Harvard Extension School. Lebih dari 14.000 orang bekerja di Harvard, termasuk lebih dari 2.000 fakultas. Ada juga janji fakultas 7.000 mengajar di rumah sakit afiliasi.
sumber: http://hermawayne.blogspot.com/2010/10/10-universitas-terbaik-di-dunia.html
Studi ke Jepang? Ikuti Konsultasi Gratis Ini!
JAKARTA, KOMPAS.com - Berencana melanjutkan studi ke Jepang, tapi khawatir dengan rumor bahaya radioaktif pascatsunami di Negeri Sakura beberapa bulan lalu? Sekolah Bahasa Jepang Pandan College di Serpong dan Bali membuka tawaran konsultasi gratis pada Senin (20/6/2011) hingga Rabu (22/6/2011). Dalam konsultasi ini, akan diinformasikan mengenai keadaan lingkungan di Jepang saat ini.
Richard Susilo, pendiri Pandan College, mengatakan, rumor radioaktif di Jepang yang tidak benar, sangat merugikan bagi siapa pun yang ingin meraih ilmu setinggi langit, khususnya yang ingin pergi ke negeri Sakura.
"Oleh karena itu, Pandan College membuka kesempatan untuk konsultasi gratis bagi siswa sekolah Indonesia yang ingin sekolah di Jepang. Sekaligus memberikan informasi terbaru mengenai keadaan lingkungan di Jepang yang aman dan tidak berbahaya bagi kesehatan saat ini," kata Richard.
Bagi Anda yang berminat, konsultasi gratis tiga hari itu akan dimulai pukul 09.00 hingga malam hari. Untuk penjadwalan konsultasi, para peserta diminta untuk mendaftarkan diri melalui telepon 021-2727-2511.
Adapun, konsultasi gratis dari Pandan College di Bali dilaksanakan tanggal 27-29 Juni 2011. Tidak ada biaya apa pun, namun pendaftaran harus dilakukan terlebih dulu mulai sekarang. Setiap orang akan dibatasi untuk mengikuti konsultasi selama maksimal 1 jam.
Minggu, 12 Juni 2011
Peluang Kerja Lulusan Jurusan Hubungan Internasional
Kemudian, jurusan apa yang sebaiknya kita ambil? Sebaiknya jurusan tersebut yang memang kalian niati, bukan hanya sekedar untuk keren-kerenan atau sekedar iseng-iseng mencoba. Beberapa hal tadi dapat berdampak buruk untuk masa depan kalian. Kalau kalian tidak bisa mengikuti pelajarannya alhasil kalian harus pindah jurusan dan umur kalian sudah terbuang 1 tahun (percuma atau tidaknya itu tergantung dari masing-masing individu)
Nah, di sini saya ingin memberikan review tentang salah satu jurusan di perguruan tinggi, yaitu Jurusan Hubungan Internasional (sedikit promosi jurusan sendiri) . Jurusan ini masih menjadi jurusan idaman dari para lulusan SMA. Buktinya saja, tiap tahun pasti beribu-ribu orang berkompetisi untuk masuk jurusan ini.
Bicara mengenai Hubungan Internasional, pasti orang-orang berpikir bahwa lulusan dari HI paling kerjanya menjadi diplomat sehingga banyak orang tua yang beranggapan bahwa prospek kerja dari jurusan ini sempit. Pemikiran tersebut ternyata salah besar jika kalian ingin mencari tahu lagi lebih dalam mengenai jurusan ini. Menjadi diplomat merupakan lahan tradisional dari jurusan ini. Di jurusan ini pada semester 5 nanti akan ada peminatan sesuai dengan minat kalian masing-masing. Mereka adalah Security Conflict, International Development, dan yang ke-3 Social and Cultural Develompment. Kalian harus memilih salah satu dari ke-3 ini sesuai dengan minat kalian nantinya akan bekerja di mana.
Di jurusan ini kalian mempelajari macam-macam ilmu, mulai dari hukum, politik, ekonomi, budaya, dan tentunya teori-teori hubungan internasional. Ada sedikit jokes mengenai jurusan ini bahwa jurusan hubungan internasional mendapatkan gelar sarjana ST nantinya (Semua Tahu). Saya juga pernah mendengar suatu pesan dari dosen saya (kurang lebih seperti ini) "We need to know something about everything, but in the end it would be know everything about something" Kalau tidak salah beliau memetiknya dari seseorang, tapi saya lupa siapa.
Sekarang tergantung kalian, jurusan apa yang ingin kalian pilih nantinya untuk kedepannya sebab yang menentukan masa depan adalah kalian sendiri bukan orang tua kalian. Tugas orang tua di sini hanyalah sebagai pendamping kalian. Dari sini saya tidak pernah selalu setuju terhadap orang tua yang menentukan jurusan apa untuk anaknya nanti di universitas (bukannya ngajarin untuk yang buruk ya). Bagus kalau anak tersebut dapat mengikuti, kalau tidak?
Untuk Kalian yang masih penasaran dengan lahan kerja lulusan Hubungan Internasional, berikut ada sumber tabel untuk mendukungnya.
